Fatherless country/father hunger adalah keadaan dimana ayah ada secara fisik, tapi secara psikologis kehadiran ayah tidak ada di dalam jiwa anaknya.. bisa jadi karena sang ayah terlalu sibuk bekerja yang mengakibatkan kurangny komunikasi dan rasa dekat dengan anak , atau perlakuan sang ayah terlalu kasar thd anak sehingga anak tidak lagi merasakan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya..
sharing tentang hal ini,,
based on true story, nama dan tempat disamarkan.
bisa dikatakan saya adalah salah satu dari anak-anak yang merasakan “FATHERLESS”
ayah saya alhamdulillah masih hidup hingga kini.
namun saya tidak bisa merasakan kasih sayang beliau.
saya hidup dalam keluarga kecil sederhana.
ayah saya bertangan ringan dan bermulut kasar.
pernah satu ketika, saat itu 1996, kira-kira saya kelas 3 SD.
saya pulang sekolah dengan membawa es mambo yang masih berada dimulut saya.
ayah saya marah sekali, ucapan-ucapan kasar terlontar dari mulutnya.
dia mengambil ikat pinggangnya, satu kali itu saya terkena pecutannya.
pernah ayah saya terlibat perkelahian dg bunda saya,
dari dalam kamar, saya berteriak meminta pertengkaran itu disudahi.
namun yang terjadi sebaliknya, ayah mendobrak pintu kamar dan kemudian melempar sandal berat ke arah saya.
lagi-lagi saya teraniaya.
minum es, mandi hujan hukumannya :
dipukul dg gagang sapu ijuk yang terbuat dr kayu, dipukul dg pengki (serokan sampah).
nilai raport merah, menjawab ketika beliau marah hukumannya : dilempar sandal, dipukul dg gagang sapu.
totalnya : punggung saya telah berhasil mematahkan 4 gagang sapu ijuk dan mengahncurkan 1 buah pengki.
entah berapa banyak sandal yang telah mengarah ke saya.
jika ayah marah, dia mengulang cerita bagaimana ayah merawat saya sejak bayi, betapa besar uang yang ayah keluarkan dari saya lahir hingga saya besar. haruskah kewajibannya dihitung??
saya tidak tau mengapa ayah membenci es, saya juga tidak tahu kenapa sy tidak boleh bermain hujan.
ketika saya tanya alasannya sebelum saya dipukul, ayah selalu nampak semakin geram dg pertanyaan saya.
ketika ayah marah dan mulai memukul saya, bunda hanya bisa menangis.
saya memiliki bunda hebat, yang bisa bertahan dg psikologis ayah yang seperti itu.
padahal tak jarang bunda kena pukul, mendapat cacian, makian, namun bunda selalu tegar.
dilingkungan tempat tinggal kami, keluarga kami dikucilkan.karena perangai ayah yang begitu buruk dimata mereka.
tiap kali saya lewat di gang dekat mesjid rumah saya, ada seorang tetangga yang selalu menghina-hina.
dirumah, kami tidak dihargai oleh ayah, namun dilingkungan tempat tinggal justru karena kesalahan ayah, kami ikut dikucilkan, kami tidak mendapat penghargaan sebagai manusia.
entah berapa dalamnya sakit hati saya saat itu, terhadap orang-2 yang menghina saya dan keluarga, maupun rasa benci terhadap ayah saya sendiri.
besar dg didikan seperti itu, membuat saya menjadi terlatih menangani pahitnya sakit hati.
saya tidak mudah sakit hati. saya tidak mudah berlarut dalam kesedihan. karena kekerasan2 itu membuat jiwa saya sangat stabil. walaupun ada masa2 tertentu saya tetap butuh bantuan orang lain untuk menghilangkan rasa sedih saya.
saya memang tidak memiliki ayah seperti yang saya impikan,
namun ALLAH MAHA ADIL, saya mendapat banyak teman-teman baik.
sebagian mereka saya anggap sebagai abang2 saya. dan saya merasa nyaman bila berkonsultasi dg mereka.
saya merasa diperlakukan seperti adik satu2nya oleh mereka. kebetulan saya tidak memiliki kakak laki-laki.
ALLAh mempermudah jalan saya menemukan kebahagian saya sendiri, walau hingga kini saya masih berharap ayah saya dapat berubah menjadi lebih baik.
diusianya yang tahun ini menginjak usia 66 tahun, saya berharap ayah bisa berubah.
saya hingga kini masih menanti perubahan itu….
NB : Terima kasih untuk teman-teman saya yang merangkap menjadi abang2 saya..
yang selalu menghadirkan tawa dikala sedih saya.. yang tak pernah letih memberi support untuk saya.
I LOVE YOU ALL MY BROTHERS
